Home / Berita / Straight News / Lewat Kreativitas, Mahasiswa Ilmu Komunikasi UNP Suarakan Isu Kebebasan Pers di Showcase Bootcomm Vol. 3

Lewat Kreativitas, Mahasiswa Ilmu Komunikasi UNP Suarakan Isu Kebebasan Pers di Showcase Bootcomm Vol. 3

(Seremonial pembukaan Showcase Bootcomm Vol. 3 di Taman Fakultas Ilmu Sosial, Selasa (9/12) f/DOKUMENTASI BOOTCOOM)

Padang, 9 Desember 2025 – Prodi Ilmu Komunikasi Universitas Negeri Padang (UNP) kembali mengadakan Showcase Reboot Communication Vol. 3 pada Selasa (9/12) di Taman Fakultas Ilmu Sosial (FIS) UNP. Acara ini merupakan kegiatan setiap tahun yang dirancang untuk mahasiswa baru Prodi Ilmu Komunikasi. Selain itu acara ini menghadirkan pameran karya seperti, iklan, radio, zine, dan film. Tidak hanya karya, showcase Bootcomm Vol. 3 juga menghadirkan talkshow, visual mapping, penampilan musik, F&B Corner, serta photobooth sebagai ruang eksplorasi kreativitas dan interaksi antar mahasiswa.

Showcase Bootcomm tahun ini mengangkat tema “Bisu di Tengah Riuh”, sebagaimana yang disampaikan Evan selaku Ketua Panitia bahwa “Tema ini dipilih karena melihat kejadian akhir-akhir ini yang sangat relevan yaitu, ketika ramai isu disfungsi media, seperti represi jurnalis, hoaks, dan buzzer. Sehingga sebagai mahasiswa, kami memiliki ruang independen untuk membahas isu tersebut” ujar Evan. Hal ini sejalan dengan yang disampaikan oleh Aca perwakilan kelompok iklan, “Kami ingin menyuarakan bahwa jurnalis itu harus diberi kebebasan pers, tanpa takut meliput semua liputannya secara langsung” ucapnya.

Dari seluruh karya yang ditampilkan mahasiswa Ilmu Komunikasi dipersiapkan dari jauh hari untuk hasil yang maksimal, “Yang paling menantang itu justru di awal, yaitu saat mencari ide. Kami sadar, ide yang asal-asalan akan berakhir pada karya yang jelek” ucap Arka perwakilan kelompok Radio. 

Dalam kesempatan terpisah, Evan selaku Ketua Pelaksana juga menjelaskan bahwa tantangan terbesar dalam mempersiapkan acara adalah banyaknya hal tak terduga di lapangan. “Apalagi kegiatan ini outdoor, sedangkan akhir-akhir ini isu bencana hidrologi semakin sering terjadi. Itu jadi tantangan berat bagi kami,” jelasnya. Ia juga menegaskan bahwa tema “Bisu di Tengah Riuh” tidak hanya berfokus pada jurnalis. “Isu disfungsi media itu luas. Apa yang kakak sebutkan tentang masyarakat yang dibungkam saat demo juga bagian dari itu. Teman-teman bebas meng-highlight isu mana yang ingin mereka suarakan,” ujarnya. Meski demikian, ia memahami mengapa mayoritas kelompok memilih mengangkat isu jurnalis terbungkam. “Sekarang lagi ribut-ributnya soal media dan represi jurnalis. Mereka melihat ini sebagai isu yang paling kuat untuk diangkat melalui karya kreatif,” tuturnya.

Dengan demikian acara ini tidak hanya menjadi puncak pembelajaran, tetapi juga bukti nyata bahwa mahasiswa Ilmu Komunikasi UNP mampu menjawab “kebisuan” dengan karya yang kritis, kreatif, dan berani bersuara. Melalui iklan, radio, zine, dan film, mereka mengubah ruang akademik menjadi ruang dialog publik, sekaligus menegaskan peran generasi muda sebagai agen perubahan dalam gelombang informasi yang tak pernah berhenti riuh.

(Reporter: Viola Destriyani Syara dan Vania Qurratul)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *